Masa Kecil
Beberapa tahun yang lalu, seperti biasanya, aku selalu bermain dengam teman-teman seperjuangan masa kecilku. Berbeda dengan sekarang, teman-teman yang dulu selalu ada, sekarang sibuk menata masa depannya masing-masing. Dulu usiaku masih menginjak 9 tahun, belum mengalami masa puber, belum mengerti apa itu cinta, belum mengerti apa itu sin cos dan tan, belum memikirkan tentang masa depan, yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya bisa terus bermain tanpa memikirkan beban-beban hidup yang ada, aku hanya ingin bermain, menikmati masa kecilku. Tapi, betapa bodohnya aku waktu dulu, yang mengira bahwa pedaganh ice cream coy adalah penculik anak-anak, orang yang membawa mobil Jeep adalah penculik anak-anak, pengamen adalah penculik anak-anak, aneh memang.
Ternyata masa kecil itu indah ya, lebih indah dari wajah si dia, lebih indah dari Lucinta Luna, apalagi Nurrani.
Pada suatu hari, seperti biasanya, aku dan teman-temanku sedang bermain. Kami sedang duduk santai di depan rumah temanku. Teman-temanku kebanyakan lebih tua dariku, tapi umur bukanlah penghalang dalam sebuah pertemanan.
Aku: "Bosen nih, main apa yuk?"
Sela: "Iya yuk main, lari-larian kek, mamah-mamahan berbi-berbian, terserah yang penting main, jangan diem-diem aja"
Wati: "Gimana kalo main babatekongan aja?" (ituloh permainan semacam petak umpe) Kami semua mengangguk setuju.
Akhirnya kami terbangun dari tempat duduk kami, sibuk mencari patah yang diimpikannya, karena permainan ini hanya bermodalkan patah dan teman-teman:). Setelah mencari patah, Haris membuat lingkaran kecil dan garis lurus yang berjarak sekitar 5 langkah dari lingkaran kecil itu. Semuanya baris di belakang garis itu dan melemparkan patahnya, agar masuk ke dalam lingkaran itu, karena jika jarak patah lebih jauh dari lingkaran itu, maka dialah yang jaga. "Patahku bagus nih, aku pasti bisa melemparkannya masuk ke dalam lingkaran itu" kata Salma. Mendengar perkataan Salma tadi, aku jadi tidak percaya diri, karena patah yang aku dapat, tidak seperti yang aku impikan. "Brukkkk" (suara patah) ternyata patahku jaraknya tidak jauh dari lingkaran itu. Setelah semuanya melemparkan patahnya, ternyata yang jaga adalah Salma yang tadi sangat bangga dengan patahnya itu. Sebagus-bagusnya patah tidak akan menang tanpa adanya teknik yang kuat:). Dari sini saya belajar, janganlah terlalu optimis dalam menkalankan sesuatu tanpa disertai doa dan usaha, karena hasilnya belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan, intinya tetaplah berdoa dan berusaha. Dan janganlah sombong dengan apa yang kita miliki, karena semua itu hanya titipan, karena sesungghnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Salma hanya bisa pasrah menikmati nasibnya mencari teman-temannya sambil menjaga patah-patah yang bertumpuk itu agar tidak terjatuh. Kami semua bersembunyi, ada yang bersembunyi di pohon, di balik tembok, di semak-semak, bahkan ada yang pulang ke rumahnya. Setelah beberapa lama, akhirnya Salma bisa menemukan teman-temannya. Alhamdulillah. Kami bermain lagi, dan kini giliran Wati yang jaga, tetapi Wati kelihatannya kesulitan untuk mencari teman-temannya, tanpa disadari Wati meneteskan air matanya, kami semua datang menghampiri Wati. "Yaudah aku aja yang jaga" Kataku kepada teman-temanku. Dan disinilah aku merasa lebih hebat dari Spiderman, tapi aku ingat, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Setelah lama bermain, kami semua duduk kembali di depan rumah temanku, menghirup udara segar sambil menikmati indahnya langit di siang hari. Siang itu, tepatnya pukul 13:00, matahari sangat terik, hingga membuat mata kami sipit-sipit tidak jelas:). Tapi aku tidak peduli, seterik apapun aku harus tetap bermain, inilah yang membuat kulitku kurang cerah sampai sekarang, karena terlalu bersemangat untuk bermain.
Siang itu kami merasa bosan, ingin melanjutkan bermain, tapi kami sangat lelah. Tiba-tiba perutku lapar dan ingin makan yang segar segar.
Aku: "Minta belimbing yuk ke Pak Hasan"
Sekar: "Boleh"
Aku: "Nanti kamu yang izin ya" pintaku kepada Sekar
Sekar: "Desi aja"
Wati: "Izin bareng-bareng"
Aku: "Yaudah iya"
Sesampainya di rumah Pak Hasan, kami semua meminta izin, dan alhamdulillah kita boleh mengambil belimbing miliknya. Aku dan teman-temanku sangat semangat menaiki pohon tersebut. Aku melihat ada belimbing yang sangat segar, yang memaksaku untuk mengambilnya. Tapi untuk mengambil belimbing tersebut, butuh konsentrasi dan tenaga yang kuat. Aku meminta bantuan kepada temanku "Wati, tolong ambilin belimbing itu dong" pintaku. "itu jauh, aku gabisa ngambilnya, takut jatuh" "Yahhhhh payah" kataku mengejek. "Kamu jangan coba-coba ngambil, masih banyak belimbing yang lain, lagian rantingnya juga udah hampir patah". Baru ranting yang hampir patah, bukan hati:v
Desi: "Daks, menta palastik atulah"
Aku: "Pulung tuh pulung di bawah" Desipun turun mengambil plastik untuk menaruh belimbing yang diambilnya tadi. Aku masih menatapi belimbing tersebut, bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengambilnya. Ternyata kali ini belimbing lebih menarik daripada si dia:). Dengan nekadnya kakiku melangkah maju mendekati belimbing itu, dan alhasil belimbingku dapat, akupuh dibawah tergeletak. Teman-temanku panik, tapi aku biasa saja, aku hanya meneteskan air mata sambil memanggil mamahku. Teman-temanku langsung membawaku pulang, aku bersikap so kuat di depan mamahku, padahal sebenarnya aku rapuh. Aku masuk ke dalam meninggalkan teman-temanku, dan Wati menceritakan kejadian itu kepada temanku.
Keesokannya, aku sudah sehat dan bermain seperti biasanya bersama teman-temanku. Belajarlah dari kejadian ini, tetaplah berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, jatuh bangun lagi, gagal coba lagi, karena hidup tidak selalu di bawah.