Minggu, 03 Maret 2019

Esai

Pengaruh Sosial Media Bagi Kehidupan Manusia

        Zaman sekarang, sudah banyak orang yang memiliki media sosial/sosial media. Media sosial sudah tidak asing lagi bagi kita, anak-anakpun sudah banyak yang menggunakan media sosial, padahal seusia mereka seharusnya belum mengerti media sosial, tapi seiring berjalannya waktu, teknologi semakin canggih. Media sosial dihadirkan untuk mempermudah komunikasi, tapi nyatanya sekarang manusia asik berkomunikasi di dunia maya daripada berkomunikasi di dunia nyata.  Banyak media sosial yang sering digunakan, diantaranya Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, WhatsApp, Path, Line dan masih banyak lagi. Kehadiran media sosial sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari. Media sosial juga bisa digunakan untuk berjualan online dengan mudah. 
        Banyak sekali manfaat dari media sosial, bisa mencari informasi, berita dan pengetahuan dengan mudah, bisa berkomunikasi dengan mudah, mendapat banyak hiburan, sebagai wahana mencari penghasilan, sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan. Tetapi media sosial juga memiliki dampak negatif seperti kecanduan, lupa waktu, mengganggu kesehatan tubuh, dan banyak yang menyalahgunakan media sosial. Itulah dampak positif dan negatif dari media sosial, tinggal bagaimana seseorang menggunakan media sosial tersebut. Gunakanlah media sosial seperlunya dan semestinya saja. 

Novel

Cinta Pertama


Chapter 1
"Senakal-nakalnya dan semalas-malasnya saya, saya ga mau ngerugiin orang banyak"


        SIAPPP GRAKKK! SETENGAH LENCANG KANAN GRAKKK! TEGAKKK GRAKKKK! Matahari sangat terik di pagi itu, tapi bagi anak sekolah, matahari seterik apapun, bahkan cuaca sedingin apapun, upacara selalu dilaksanakan, bagaikan sarapan pagi yang sangat nikmat, saking nikmatnya, banyak siswa siswi yang tidak berminat melaksanakannya. ISTIRAHAT DI TEMPATT GRAKK! "Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatu. Bagi seluruh siswa yang belum membayar spp, diharapkan segera melunasinya secepat mungkin, karena ujian akan dilaksanakan sebentar lagi. Terimakasih. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatu." Plisss ini bukan amanat:( "Untung gue udah lunas, mau di taro dimana muka gue kalo gue sampe di tagihin bayar spp" begitulah kata si sombong. "Apasih, gitu doang diumumin" begitulah kata si orang yang belum bayar spp tapi gengsi. "Omaygat, gue harus irit beli kuota buat donlot drakor nih" begitulah kata si pecinta korea. "Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam segala urusan, Engkaulah yang mengatur segalanya, berilah hamba rezeki Ya Allah, agar hamba bisa membayar spp secepatnya" alhamdulillah, masih ada manusia yang seperti ini:)

        *Di Kelas*
   "Woy bayar kas woy, semuanya dengerin HARI INI BAYAR KAS".
   "Santai mbanya" jawab salah satu murid.
   "Woy Pak Deni Pak Deni" semuanya terburu-buru duduk ditempatnya masing-masing, kecuali Faldy, dia tetap tidur di teras belakang, dengan wajah ditutupi oleh topi sekolah, padahal upacara baru saja selesai 15 menit yang lalu.
   "Selamat pagi anak-anak"
   "Pagi Pak"
   "Ini ko bangkunya kosong, lagi kemana?"
   "Itu Pak" menunjuk keberadaan Faldy. "Parah tuh si Faldy, pelajaran guru killer aja masih berani tidur" kata Aldo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aldo ini adalah teman dekat Faldy dari kecil, banyak yang bilang muka mereka mirip.
   "Ini anak, baru kemarin orang tuanya kesini, baru kemarin lusa masuk Bp, baru minggu kemarin di skors, sekarang bikin ulah lagi?" belum saja Pak Deni membangunkan, Faldy sudah terbangun. "Faldy, karena kamu tidur di jam Bapak, sekarang kamu lari di lapangan basket 10 keliling" tegas Pak Deni. "Aelah Pak, ini bukan tidur Pak, tapi ketiduran, jadi jangan salahin saya dong Pak" dengan santainya Faldy menjawab tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Lari 10 keliling apa 100 keliling nih? Sebelum Bapak berubah pikiran". "Pak Deni ganteng, yang gantengnya melebihi saya, semalem saya begadang ngerjain tugas sekolah Pak, jadi sekarang saya ketiduran" alesan nih. "Eeee buset tu bocah kan semalem nongkrong di warung sama gue sampe jam 1, bisa aja cari alesannya" Aldo memberitau kepada Alvaro. "Bapak ga percaya, sudah banyak guru yang dibohongi sama kamu, sekarang juga lari! Apa mau saya tambahin hukumannya?" kata Pak Deni. "Iya Pak" Faldypun keluar kelas menuruti perintah Pak Deni. "Yaudahlah gapapa, lagian gue males banget belajar, mending ke kantin, daripada lari" batin Faldy. Begitulah Faldy, lengkapnya Muhammad Faldy Al-Fauzan, murid kelas x ips 2, buronan Bp, sangat tampan tapi sangat pemalas, di tambah lagi nakal, dan yang lebih anehnya, Faldy sangat risi dengan cewe kecuali ibunya dan adiknya, padahal banyak cewe yang mengagumi Faldy, bahkan dia belum pernah merasakan jatuh cinta, hmmmmmmm:)

        *Di Kantin*
        Kanting sangat sepi pagi ini, yang ada hanya bibi-bibi kantin dan jualnnya. Wajar saja, karena jam masih menunjukan pukul 09:00 WIB, belum waktunya istirahat.
         "Loh udah istirahat den?" kata Bi Ijah bertanya kepada Faldy. "Belum Bi, Faldy di hukum lari di lapangan basket, tapi Faldy males, mending Faldy ke kantin, lagian tadi di rumah belum sarapan". "Ko bisa di hukum den?" tanya Bi Ijah. "Biasalah Bi, ketiduran di kelas". "Ya Allah masih pagi udah ketiduran" kata Bi Ijah sambil tertawa. "Ya gapapalah Bi, lagian Faldy sangat bersyukur, hari ini gak ikut pelajaran Pak Deni, bisa ke kantin pagi-pagi buat sarapan, ketemu Bi Ijah lagi wkwkwk". Faldy tersenyum sambil mengetuk jari jemarinya ke meja". "Bi pesen nasi uduk sama es teh manisnya ya". "Siap bosss" sambil hormat ngeledek Faldy. Pesananpun datang, Faldy langsung menyantapnya tanpa memikirkan hukuman yang diberikan Pak Deni untuknya.
        "FADLY!!!!!" terdengae suara nyaring dari belakang Faldy, ternyata itu adalah suara Pak Deni, Faldy menengok dengan wajah yang biasa saja tanpa merasa berdosa sedikitpun. "Nama saya Faldy Pak, bukan Fadly" ucap Faldy dengan santainya. "Ikut Bapak ke ruang Bp sekarang" dengan wajah sangat marah. "Mau ngapain Pak? Emang gak bosen ga bawa saya ke ruang Bp terus? Lain kali bawa ke Dufan kek, kan seru Pak nanti kita main bareng". "Sekarang juga, ikut Bapam!!!!! " "Iya Pak iya. Bi, nanti saya bayar ya, saya ada urusan dulu"

        *Di ruang Bp*
        "Kenapa lagi Pak?" tanya Bu Endah (guru Bp) "dia tadi ketiduran waktu pelajaran saya, saya hukum dia lari lapangan basket selama 10 keliling, tapi nyatanya dia ke kantin Bu" Pak Doni menjelaskan. "Tadinya saya mau lari Bu, tapi tadk di rumah saya belum sarapan, saya takut pingsan Bu kalo lari belum sarapan. Tadi upacara aja sebenarnya saya sedikit lemas Bu. Jadi sebelum saya lari, saya sarapan dulu supaya saya kuat larinya Bu" dengan entengnya Faldy menjawab. "Gausah banyak alesan, ibu udah sering nanganin kamu". "Terus sekarang saya mau di hukum lagi Bu?" tanya Faldy. "Bawa orang tuamu besok menghadap Ibu" tegas Bu Endah. Faldy hanya menghela nafas, "Yaudah sana" Faldy pergi tanpa mencium tangan gurunya itu, memang benar-benar anak yang sopan:(


Chapter 2
"Keputusan tetap keputusan, sulit untuk di ubah, apalagi mengindar"


        "Assalamualaikun Mah" "Waalaikumsalam, eh anak mamah udah pulang, gimana sekolahnya? Ga buat ulah lagi kan?" tanya mamah Faldy. "Tenang aja mah. Oiya tadi Bu Endah bilang, katanya besok mamah ke sekolah menghadap Bu Endah". "Tuh kan kamu ngapain lagi? Mamah cape bolak balik ke sekolah ku terus, sehari ga buat ulah bisa kan?". "Biasalah mah, anak mamah ini selalu berprestrasi di sekolah" iya benar sangay BERPRESTASI. "Asik nih ada semur jengkol" menaruh tasnya lalu mengmbil piring dan sendok. Mamahnya hanya bisa pasrah melihat kelakuan Faldy.
        Keesokan harinya, ibunda Faldy datang menghampiri Bu Endah, karena bagi mamah Faldy, hal ini sudah biasa terjadi.
        Sesampainya di rumah, mamah Faldy dan papah Faldy menunggu kedatangan Faldy pulang.
   "(Tokkk tokk tokk) Assalamualaikum"
   "Waalaikumsalam"
   "Eh papah tumben jam segini ada di rumah,  biasanya kan pulang malem" basa basi
   "Ada yang ingin papa bicarakan, sekarang kamu duduk dulu" Faldy menuruti     perintah bapaknya.
   "Jadi gini nak, papah dan mamah sudah sepakat untuk menyekolahkan kamu ke.           Pasantren"
   "Pasti bercanda kan?"
   "Papah serius, papa juga udah bilang ke orang tua Aldo dan Alvaro buat nemenin.           kamu disana, dan orang tua mereka setuju"
   "Aldo? Alvaro? Mau dipindahin juga?" "Gila ni papah sama mamah niat banget" dalam hati.
   "Iya, dan lusa kamu akan pindah"
   "Terus Alvaro sama Aldo mau pa?"
   "Walaupun mereka ga mau tapi mereka harus tetap pindah"
Faldy langsung meninggalkan mamah dan papahnya, tidak menganggukan dan tidak menggelengkan kepalanya sama sekali, karena yang bisa dilakukannya hari ini adalah pasrah:v


Chapter 3
"Semuanya benar-benar berbeda"


        Hari itupun tiba, hari dimana Faldy, Aldo dan Alvaro mendapatkan suasana hidup yang berbeda. "Mari saya antarkan ke ruang istirahat kalian" kata Ustadz di pasantren itu. Mereka bertiga mengikuti langkah Ustadz itu. "Ini kamar kalian bertiga, memang tak sebagus kamar-kamar kalian di rumah" "Anjir gaada ranjangnya? Ac gaada? TV juga ga ada? Terkejut Aldo. "ini sepertk gudang" kata Faldy. "Ga nyaman banget:(" Kata Alvaro. "Sekarang kalian beresin barang-barang kalian, setelah itu kalian ke masjid" perintah Pak Ustadz. Mereka semua mengangguk.
        *Di perjalanan menuju Masjid*
        "Pergi aja yu keluar, ngopi, lagian ngapain sih ke Masjid?" ajak Faldy. "Berubahlah mulai hari ini Fal, jadilah Faldy yang baru, jangan sampe kamu ngecewain orang-orang di sekitar kamu" Alvaro berusaha menasehati Faldy. "Sejak lapan lo kaya gini?" kata Faldy sambil tertawa. "Sejak mamahku menyuruhku untuk sekolah disini, gue mau berubah demi mereka". "Yaudahlah yuk ke Masjid" ajak Aldo. "Lahhh kalian ko ga asik" Faldy kesal, tapi Faldy menuruti kemauan mereka. Pada saat di perjalanan, Faldy melihat seorang cewe yang menurutnya berbeda dengan cewe lain, cewe ini beda, hanya dengan waktu itungan detik, dia bisa membuat Faldy bangun cinta. "Daks, kayanya gue jatuh cinta" perkataan Faldy tersebur membuat kedua sahabatnya terkejut dan merasa tidam percaya. "Ini ga boong, kayanya gue beneran jatuh cinta" Faldy sangat yakin. "Siapa yang buat lo jatuh cinta kaya gini Fal?" tanya Alvaro penasaran. "Cewe berjilbab biru itu" sambil menunjuk ke arah cewe itu. "Shit men, gue bersyukur, ternyata Faldy manusia normal. Keren tu cewe bisa buat seorang Faldy yang anti cewe, sekarang demen juga sama cewe" kata Aldo sambil menggelengkan kepalanya. "Bantu gue buat dapetin dia" "Eee buset ngebet banget lo" celetuk Aldo. Alvaro menarik tangan Faldy dan menghampiri cewe itu. "Apaan sih lo?" jantung Faldy berdetak sangat kencang, bibirnya sulit untuk berkata sedikitpun. "Hai nona cantik, nama nona siapa? Ini temen gua suka " goda Aldo tanpa memikirkan Faldy. "Astagfirullah" jawab salah satu temannya. Mereka berdua pergi meninggalkan Aldo, Alvaro dan Faldy yang terdiam kaku.
        Sesampainya di masjid, mereka duduk dan mendengarkan ceramah. "Keluar yu" ajak Faldy, padahal mereka baru saja 5 menit di masjid. "Yuk" mereka semua berdiri dan melangkahkan kakinya keluar masjid. "Heii mau kemana? Bentar lagi adzan magrib, mari sholat berjama'ah" suara itu terdengar dari belakag mereka. Dan dia adalah senior mereka. "Sholat? Terkahir sholat gue waktu SD, dan sekarang gue lupa gimana caranya sholat" bisim Faldy kepada Aldo. "Apa? Lupa caranya sholat?" tanya kaka itu. "Lo ngomongnya kekerasan Fal:" kata Aldo sambil menepuk jidat Faldy. "Lagian lo ga usak ngatur hidup gua, mau gue sholat, mau gue ga sholat, itu terserah gue" Nyolot Faldy kepada laka senior itu. "Tapi..." belum selesai kaka berbicara, mereka bertiga pergi meninggalkan kaka itu. Tidak disadari, dari kejauhan ada seorang wanita yang melihat dan mendengarkan percakapan mereka. Ya, wanita itu adalah wanita yang tadi di samperin Faldy dan teman-temannya. Dia bernama Fika.
        Kini mereka bertiga berada di atap, menikmati indahnya dunia di malam hari. Biasanya malem-malem begini mereka nongkrong di warung, tetapi sekarang beda, mau keluar dari Pasantren aja susah, apalagi nongkrong di warung.
Aldo: "Gue ga yakin, kalo gue bakalan betah disini"
Faldy: "Apalagi gue"
Alvaro: "Kalian ngeluh terus, niatin sekolah disini buat berubah"
Faldy: "Iya dah"
        Setelah itu, suasana disana menjadi hening, hanya ada suara jangkrik saja yang terdengar. Tiba-tiba Faldy terbayang wajah wanita itu, dia baru merasakan, ternyata jatuh cinta itu menyenangkan. Hanga membayangkan wajahnya saja sudah membuatny bahagia, apalagi kalo bisa milikin hmmmmmmm. "Do, Varo, gue harus bisa dapetin dia" tiba-tiba Faldy berbicara seperti itu, yang membuat Aldo dan Alvaro tertawa. "Lo sekalinya jatuh cinta kaya gini ya, kaya wong edan, senyum senyum sendiri lagi, jijik gue" kata Aldo. "Akhirnya hati yang dulu beku, sekarang sudah mencair" "Lo berdua harus bantuin gue biar bisa dapetin dia" sambil senyum senyum. "Siap Bosquuu".


Chapter 4
"Merubah sikap itu ga segampang powerrangers yang tinggal mencet tombol langsung berubah:("


        "Heii, bengong nih ye" sambil menyolek Fika. Dia adalah sahabatnya Fika, panggil saja dia Mawar. "Pasti lo lagi mikirn cowo tadi kan? Cie cie cie" Mawar mengejek. "Kayanya lo suka nih, lagian dia ganteng juga Fik, coba kalo dia yang suka sama gue, bukan sama lo" berkhayal. "Apaan sih lo, lebay tau ga" menyubit tangan Mawar.  "Yaudah sih sans aja kalo ga suka mah" menaik nurunkan alisnya. "Terserah lo" pergi meninggalkan Mawar.
        Keesokan harinya, semua santri bangun pukul 03:00 pagi untuk melaksanakan sholat tahajud. Tetapi tidak dengan Aldo, Alvaro dan Faldy, mereka masih tidur di kasurnya yang katanya kurang bagus. Alvaropun yang berniat berubah masih malas juga. Gapapa, yang penting ada niantan, daripada tidak sama sekali. Tokkk tokk tokk! "BANGUN, ni anak males banget si" suara itu membangunkan Faldy, Aldo dam Alvaro. Alvaro beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu. "Kalian, bukannya bangun malah enak enakan tidur, udah jam berapa ini? Waktunya sholat subuh, sekarang bangun, mandi terus ke Masjid" perintah Pak Lukman, dia adalah guru yang mengajar di Pasantren ini. "Baik Pak" Alvaro mengangguk. Jam menunjukan pukul 04:30, ini bukan seperti biasanya mereka bangun, dan kali ini mau tidak mau mereka harus bangun. "Ikut gue" ajak Faldy. "Kemana?" tanya Aldo bingung. "Udah ayo ikut gue" mereka berdua pergi mengikuti Faldy yang entah mau kemana.
Faldy: "Nah disini kan aman"
Alvaro: "Kita harus ke Masjid"
Faldy: "Emang lo bisa sholat?"
Alvaro: "Yaaaa lupa sih"
Aldo: "Gue juga lupa"
Faldy: "Yaudah diem disini, daripada malu". Mereka bertiga duduk di belakang Pasantren, sambil mengobrol ria.
        Matahari semakin terlihat di ujung timur, hari ini adalah hari minggu. Banyak santri yang mencuci pakaiannya dan banyak juga yang berolahraga. Pagi itu, Faldy, Aldo dan Alvaro sedang joging di taman dekag Pasantren itu, saat sedang berlari, Faldy melihat wanita itu, wanita yang semalem dipikirkannya, kini telah terlihat dihadapannya. "Gue harus berani" batin Faldy. "Hai" sapa Faldy kepada wanita itu, tetapi wanita itu hanya diam tanpa melirik Faldy sedikitpun. Faldy ga mau menyerah begitu saja, dia mengikuti kemana wanita itu pergi. "Lo harus bisa" kata Aldo. Sekarang wanita itu sedang duduk di kursi taman bersama temannya.
Faldy: "Hai, gue boleh tau nama lo?"
Fika: "Saya Fika" tidak melirik Faldy sedikirpun, Fika hanya tertunduk, jari tangannya terus mengetuk pahanya.
Mawar: "Gue kesana bentar ya Fik" pergi meninggalkan Fika.
Faldy: "Kenalin, gue Faldy" Fika hanya terdiam "Oh nama dia Faldy" batin Fika.
Faldy: "Sebelumnya, apa lo pernah di ajak kenalan sama cowo?"
Fika: "Ga pernah"
Faldy: "Yes, berarti hue lelaki pertama yang ngajak lo kenalan, dan semoga gue bakal jadi cowo pertama dan terakhir yang ada di hati lo"
Fika hanya diam mendengar perkataan Faldy barusan. Tanpa disadari pipi Fika memerah dan membuat Faldy tertawa. "Ternyata lo lucu ya, gue baru ngomong gktu aja pipi lo udah merah, apalagi pas akad nanti" goda Faldy. "Gue pergi ya" Fika langsung pergi meninggalkan Faldy, jantung Fika berdetak sangat kencang waktu di goda Faldy. Dan ini pertama kalinya Fika diginiin sama cowo.
        "Keren lo Fal" kata Alvaro sambil menghampiri Faldy. "Kenapa ga minta no wa sekalian?" Aldo bertanya. "Ga sempet, setidaknya gue udah tau nama dia.
        Fika berjalan menghampiri Mawar, yang tadi meninggalkannya sendiria. Mawar hanya tertawa tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ini benar-benar menyebalkan. Fika hanya terdiam tanpa kata, jantungnya masih berdebar kencang. "Maafin gue Fik, gue udah ninggalin lo gitu aja berdua sama Faldy" kata Mawar. Akhirnya Mawarpun sadar apa yang tadi diperbuatnya tadi itu salah. "Lain kali jangan gitu lago" jawab Fika tegas. "Tadi lo diapain sama dia? " Mawar tersenyum mengejek Fika. "Apaan sih lo, udah yu ah balik ke Pasantren" mereka berdua pergi menuju Pasantren, Fika masih saja terdiam, memikirkan yang barusan terjadi. Ini pertama kalinya Fika mengobrol berdua dengan laki laki yang bukan mahromnya, duduk berdua dengan laki-laki yang bukan mahromnya, bahkan sampe di goda.
        Tokk tokk tokk.... "Siapa sih, lagi libur gini juga" Aldo kesal. "Eh Pak Ustadz, ada apa Pak?" tanya Aldo. "Saya dengar kalian lupa caranya sholat, apakah benar?" tanya Ustadz itu. Aldo hanya terdiam, melirik teman-temannya. "Iya Pak" jawab Faldy santai. "Astagfirullah, mari ikut saya ke Masjid sekarang juga" "Ini hari libur Pak, saya mau istirahat" kata Faldy. "Sholat itu kewajiban bagi orang muslim, umur ga ada yang tau, kalo kalian mati besok dan kalian ga bisa sholat, gimana mau masuk surga?" "Bapa urus saja dulu hidup Bapak, kalo udah bener baru urus hidup saya". "Fal, lo gaboleh gitu" bentak Alvaro. "Gimana gue" "Sekarang juga Bapak tunggu di Masjid" Ustadzpun keluar kamar mereka dan menunggunya di Masjid, sampe besokpin Ustadz akan terus menunggunya di Masjid. Tapi yang datang hanya Aldo dan Alvaro, Faldy tetep dikamarnya.
       Di Masjid Aldo dan Alvaro sedang belajar sholat bersama Ustadz, memang benar niat mereka kesini itu untuk berubah. Dari kejauhan, Fika melihat Ustadz sedang mengajari Aldo dan Alvaro sholat, tapi Fika heran, kenapa Faldy tidak ada disitu, padah Fika tau kalo Faldy itu tidak bisa sholat.


Chapter 5
"Perlahan"


        Hari semakin berlalu, tapi Faldy belum saja berubah. Benar-benar batu. "Aku rindu Fika" kata Faldy kepada teman-temannya. "Gue mau pergi ya, mau cari Fika" kata Faldy berpamitan kepada teman-temannya. Setelah Faldy lama mencari, akhirnya Faldy menemukan Fika, kebetulan dia sedang sendiri di perpustakaan. Ini kesempatan Faldy untuk bisa berbincang dengannya. "Hai Fik" Fika hanya diam. "Lagi ngapain?" Fika masih terdiam. "Lo udah makan?" dan lagi lagi Fika hanya terdiam. "Fikk kenapa lo cuek gitu ge gua? Banyak cewe di luar sana yang ngejar ngejar gue, tapi gue gamau, dan pada saat gue pindah kesini gue ketemu lo, semuanya berubah, karena lo gue bisa ngerasain jatuh cinta, karena lo gue sering senyum senyum sendiri,  gara gara lo hari-hari gue jadi lebih indah". "Berubahlah jadi Faldy yang baru, yang bisa membuat orang-orang merasa beruntung kenal Faldy" kata Fika sambil menunduk. "Apa gue harus berubah biar lo mau jadi milik gua? Gue suka lo Fik" kata Faldy meyakinkan Fika. Fika hanya terdiam. "Gue harus gimana Fik?" tanya Faldy. "Lo harus berubah" kata Fika. "Berubah gimana? Jadi powereangers?:(". "Gausah bercanda" Fika masih saja tertunduk. "Kalo gue udah berubah, apa lo mau jadi pacar gue? Tanya Faldy. "Gamau" jawab Fika. "Kenapa gamau? Terus buat apa gue berubah?". "Berubahlah karena Allah Fal, jangan karena gue. Gue tau lo pasti bisa berubah. Gue ga akan mau di ajak pacaran, karena pacaran itu suatu perbuatan yang keji Fal. Allah ga suka itu. Perbanyaklah mempelajari ilmu agama, supaya kamu tetap di jalannya Allah" Kata Fika menasihati. "Gue bakal berubah Fik, makasih Fik, gue beruntung bisa kenal lo" Faldy tersenyum. "Gue tau lo selalu kaya gini ke gue karena apa, karena agama melarang lelaki dan wanita yg bukan mahramnya mengobrol seperti ini kan? Sekali lagi makasih ya Fik, gue pergi dulu,  Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Faldy kembali ke kamarnya, Faldy benar-benar ingin berubah. Faldy dan teman-temannya menemui Ustadz untuk belajar, agar mereka bisa lebih paham tentang agama.
        Perlahan akhirnya Faldy mulai memahami tentang agama, alhamdulillah. Ternyata benar semuanya harus diawali dengan niat.

        Tak terasa Faldy dan teman-temannya sudah mau lulus sekolah, ini tandanya mereka bisa kembali ke rumahnya masing-masing. "Akhirnya gue bisa lewatin semuanya" kata Faldy. "Gue salut sama lo, lo udah berhasil merubah jadi Faldy yang baru" haru Aldo:v. "Sebentar lagi kita bakal ninggalin Pasantren ini, tempat dimana saya bisa belajar segalanya, terimakasih:( saya bakal merindukan semuanya" kata Faldy sambil tersenyum haru. "Gimana dengan Fika, Fal?" tanya Alvaro. "Terakhir gue ketemu dia waktu dia nyadarin gue supaya gue berubah, sekitar 2 taun yang lalu. Dulu mau ketemu dia gampang, sekarang kan beda, gue ga berani masuk lagi ke tempat cewe, karena gue udah berubah:v" "lo masih suka dia?" tanya Aldo. "Bukan suka lagi, setiap sholat gue selalu berdoa supaya gue berjodoh dengan dia Aamiin, semoga Allah mengabulkan doa gue" "Aamiinnn" "Bentar lagi lulus, lo makin nambah susah buat ketemu sama Fika, Fal" kata Alvaro. "Gapapa, sejauh apapun jodoh bakal ketemu di waktu yang tepat" Faldy percaya diri. "Iya dah iya, yuk ke Masjid" ajak Aldo. "Yuuuuuu". Di Masjid Aldo melihat keberadaan Fika "Fal itu Fika kan?" menunjuk keberadaan Fika. "Masya Allah, gue sangat merindukan dia, Fikk apa lo masih inget gue?" kata Faldy "Apasih lo lebay banget Fal" Aldo tertawa terbahak-bahak:v "Gue serius Do, gue rindu dia, ingin memeluknya sekencang mungkin, pokonya gue rindu dia" "Cepet halalin Fika Fal:v" Kata Alvaro. "Ya nantilah, lulus aja belum" kata Faldy.
        "Fikk, itu Faldy kan?" Mawar bertanya sambil menunjuk keberadaan Faldy. "Ehh iya, alhamdulillah sekarang dia udah berubah:)" "Berkat lo?" tanya Mawar. "Bukan, karena dia sendiri, gue cuman bantu doa" Fika menjelaskan. "Pasti sekarang lo udah suka kan?" "Dari dulu juga udah" Fika tidak menyadari berbicara seperti itu. "APA? Tuh kan bener, cie Fika" Mawar sambil menyurung-nyurung Fika "Mampus keceplosan:(" Fika menepuk jidatnya.


Chapter 6
"Bahagia itu sederhana:v"


        Hari ini adalah hari pelulusan dan pelepasan santri kelas 12, dan alhamdulillah semuanya lulus dan bisa kembali ke rumahnya masing-masing. "Teman-teman, gue cari Fika dulu ya" kata Faldy. "Inget Fal jangan macem-macem, bukan muhrim" kata Alvaro. Faldy mencari-cari keberadaan Fika, dan akhirnya Faldy menemukan Fika yang sedang duduk di taman seorang diri.
Faldy: "Fikk"
Fika: "Faldy?"
Faldy: "Iya ini aku Faldy, terimakasih sudah memotivasi aku untuk berubah"
Fika: "Iya"
Faldy: "Masih aja cuek ya, kapan lo ga cuek sama gue?"
Fika hanya terdiam sambil memainkan gadjetnya
Faldy: "Fik, apa lo punya rasa yang sama kaya gue?"
Fika: "Rasa apa?"
Faldy: "Gue suka lo, dan gue berharap lo pun begitu"
Fika terdiam
Faldy: "Fikk gue serius sama lo"
Fika: "Buktinya?"
Faldy: "Lo tunggu gue sampe sukses dulu Fik, gue pasti bakal balik ke lo, lo mau kan nunggu gue?"
Fika: "Kenapa harus nunggu?"
Faldy: "Gue gamau pas waktu ngelamar lo, gue ga punya apa-apa, masih nganggur, gue pengen bahagiain lo"
Fika: "Masya Allah"
Faldy: "Kenapa"
Fika: "Iya gue nunggu lo"
Faldy: "Lo jangan kawatir, gue pasti datang. Yaudah Fik, Assalamualaikum"
Fika: "Waalaikumsalam"
        Faldy menghampiri teman-temannya dengan wajah yang sangat gembira. Dan mereka semua akhirnya pulang ke rumahnya masing-masing, rumah yang dirindukannya selama mereka masih di pondok.
        Beberapa tahun kemudian, Faldy sudah menjadi anak yang sukses, ini saatnya dia nepatin janjinya. "Fikkk gue datang" batin Faldy. Akhirnya Faldy datang ke rumah Fika, berniat untuk melamarnya. "Terimakasih sudah menepati janjinya" Kata Fika tersenyum kepada Faldy. Satu bulan kemudian, Faldy dan Fika menikah, mereka sangat bahagia.

TAMAT



Maaf, ini memang tidak jelas:)

Selasa, 26 Februari 2019

Editorial

Pentingnya Etika dalam Dunia Pendidikan
       

          Zaman sekarang banyak anak yang tidak menghormati orang yang lebih tua. Bahkan guru juga tidak dihormati. Walaupun guru bukan orang tua kita, tapi guru adalah orang yang sangat banyak memberi ilmu kepada kita. Tapi terkadang hanya guru galak yang dihormati oleh para murid. Padahal guru memiliki kedudukan yang sama, sama-sama menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya.

         Sekarang banyak sekali berita tentang murid yang melawan kepada guru, bahkan ada yang menganiaya sampai meninggal. Baru saja kemarin-kemarin viral, tepatnya tanggal 2 Februari 2018, seorang anak menganiaya gurunya hingga tewas. Siswa ini tidak memperhatikan gurunya yang sedang mengajar, justru mengganggu temannya yang sedang melukis. Akhirnya siswa ini di tegur oleh gurunya, tapi dia malah makin jadi. Akhirnya, korban menindak siswa itu dengan mencoret pipi pelaku dengan cat lukis. Siswa ini tidak terima dan memukuli korban. Padahal tidak seharusnya murid berbuat seperti ini kepada gurunya. Dan banyak juga vidio siswa viral yang sedang melawan gurunya, murid-murid lainnya pun hanya tertawa melihat kejadian itu, padahal murid tidak sepantasnya melakukan ini kepada guru. 

       Bagaimanapun juga, guru tetap menjadi orang tua kita. Hormatilah gurumu seperti kalian menghormati orang tua kalian. Semoga kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. 
        
        Jadi etika itu sangat penting di dalam dunia pendidikan karena apabila etika itu tidak ada maka akan hilangnya moral dalam dunia pendidikan dan tidak akan ada lagi yang namanya saling menghormati dan saling menghargai.

Sabtu, 23 Februari 2019

Artikel

Manfaat Daun Sirih Bagi Kesehatan

        Sirih adalah tumbuhan yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Di Indonesia, sirih merupakan flora khas provinsi Kepulauan Riau. Masyarakat Kepulauan Riau sangat menjungjung tinggi budaya upacara memakan daun sirih, khususnya saat upacara penyambutan tamu. Daun sirih juga sangat vermanfaat bagi kesehatan, diantaranya:

1. Obat luka/luka bakar
Daun sirih sangat ampuh untuk menyembuhkan luka. Caranya dengan menumbuk 2-5 lembar daun sirih, secukupnya saja. Setelah di tumbuk oleskan pada kulit yang terkena luka secara rutin dua kali sehari.

2. Obat radang tenggorokan
Rebus 4-5 daun sirih dalam 2 gelas air. Setelah di rebus, minum rebusan tersebut secara rutin 2-3 kali sehari.

3. Obat batuk
Selain bisa mengobati radang tenggorokan, daun sirih juga bisa mengobati batuk. Rebus 4-5 daun sirih merah dalam 2 gelas air. Setelah itu, minum rebusan air tersebut 2 kali sehari secara teratur.

4. Menghentikan mimisan
Ini cara yang mudah untuk menghentikan mimisan. Hanya dengan selembar dua lembar sirih, mimisan akan segera berhenti. Caranya, gulungkan satu lembar daun sirih, lalu masukan ke dalam lubang hidung yang mimisan.

5. Menghilangkan jerawat
Jerawat sering sekali timbul di wajah, apalagi anak remaja atau orang dewasa. Daun sirih juga bisa menghilangkan jerawat yang ada di muka maupun di   punggung. Rebus daun sirih secukupnya, kemudian celupkan handuk ke dalam rebusan sirih, lalu usap ke wajah yang sudah dibersihkan sebelumnya. Lakukan proses ini minimal 2 kali sehari. Dan masih banyak lagi manfaat dari daun sirih.

Surat Lamaran Pekerjaan

Surat Lamaran Pekerjaan

Kuningan, 18 Juli 2018
Perihal: Lamaran Pekerjaan
Kepada Yth
PT SUMBER ABADI
Jln. Cilimus No 18

Dengan hormat, 
          Berdasarkan infromasi yang saya dapat dari media cetak, bahwa perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin sedang membutuhkan karyawan. Bersama surat ini, saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin. Dengan saya yang bertanda tangan di bawah ini

     Nama: Putri Permatasari
     Tempat/tanggal lahir: Kuningan, 18 Juli 2001
     Agama: Islam
     Jenis kelamin: Perempuan
     Pendidikan: S1 Manajeman
    Alamat: Jln. Caracas No 07 Cilimus Kuningan

          Sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu, bersama ini saya lampirkan berkas-berkas yang dapat mendukung kualifikasi saya, diantaranya:

  • Daftar riwayt hidup
  • Pas foto 4x6 berwarna
  • Foto kopi ijazah sekolah
  • Foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) 
  • Foto kopi Kartu Keluarga (KK) 
  • Foto kopi Surat Keterangan Catatan Kriminal (SKCK) 


          Demikian surat lamaran pekerjaan ini saya buat, besar harapan saya untuk dapat bergabung di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih. 


Hormat saya, 


Putri Permatasari

Cerpen

Masa Kecil


          Beberapa tahun yang lalu, seperti biasanya, aku selalu bermain dengam teman-teman seperjuangan masa kecilku. Berbeda dengan sekarang, teman-teman yang dulu selalu ada, sekarang sibuk menata masa depannya masing-masing. Dulu usiaku masih menginjak 9 tahun, belum mengalami masa puber, belum mengerti apa itu cinta, belum mengerti apa itu sin cos dan tan, belum memikirkan tentang masa depan, yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya bisa terus bermain tanpa memikirkan beban-beban hidup yang ada, aku hanya ingin bermain, menikmati masa kecilku. Tapi, betapa bodohnya aku waktu dulu, yang mengira bahwa pedaganh ice cream coy adalah penculik anak-anak, orang yang membawa mobil Jeep adalah penculik anak-anak, pengamen adalah penculik anak-anak, aneh memang.
       
          Ternyata masa kecil itu indah ya, lebih indah dari wajah si dia, lebih indah dari Lucinta Luna, apalagi Nurrani.

          Pada suatu hari, seperti biasanya, aku dan teman-temanku sedang bermain. Kami sedang duduk santai di depan rumah temanku. Teman-temanku kebanyakan lebih tua dariku, tapi umur bukanlah penghalang dalam sebuah pertemanan.
     Aku: "Bosen nih, main apa yuk?"
     Sela: "Iya yuk main, lari-larian kek, mamah-mamahan berbi-berbian, terserah                         yang penting main, jangan diem-diem aja"
     Wati: "Gimana kalo main babatekongan aja?" (ituloh permainan semacam petak                      umpe) Kami semua mengangguk setuju.
          Akhirnya kami terbangun dari tempat duduk kami, sibuk mencari patah yang diimpikannya, karena permainan ini hanya bermodalkan patah dan teman-teman:). Setelah mencari patah, Haris membuat lingkaran kecil dan garis lurus yang berjarak sekitar 5 langkah dari lingkaran kecil itu. Semuanya baris di belakang garis itu dan melemparkan patahnya, agar masuk ke dalam lingkaran itu, karena jika jarak patah lebih jauh dari lingkaran itu, maka dialah yang jaga. "Patahku bagus nih, aku pasti bisa melemparkannya masuk ke dalam lingkaran itu" kata Salma. Mendengar perkataan Salma tadi, aku jadi tidak percaya diri, karena patah yang aku dapat, tidak seperti yang aku impikan. "Brukkkk" (suara patah) ternyata patahku jaraknya tidak jauh dari lingkaran itu. Setelah semuanya melemparkan patahnya, ternyata yang jaga adalah Salma yang tadi sangat bangga dengan patahnya itu. Sebagus-bagusnya patah tidak akan menang tanpa adanya teknik yang kuat:). Dari sini saya belajar, janganlah terlalu optimis dalam menkalankan sesuatu tanpa disertai doa dan usaha, karena hasilnya belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan, intinya tetaplah berdoa dan berusaha. Dan janganlah sombong dengan apa yang kita miliki, karena semua itu hanya titipan, karena sesungghnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Salma hanya bisa pasrah menikmati nasibnya mencari teman-temannya sambil menjaga patah-patah yang bertumpuk itu agar tidak terjatuh. Kami semua bersembunyi, ada yang bersembunyi di pohon, di balik tembok, di semak-semak, bahkan ada yang pulang ke rumahnya. Setelah beberapa lama, akhirnya Salma bisa menemukan teman-temannya. Alhamdulillah. Kami bermain lagi, dan kini giliran Wati yang jaga, tetapi Wati kelihatannya kesulitan untuk mencari teman-temannya, tanpa disadari Wati meneteskan air matanya, kami semua datang menghampiri Wati. "Yaudah aku aja yang jaga" Kataku kepada teman-temanku. Dan disinilah aku merasa lebih hebat dari Spiderman, tapi aku ingat, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Setelah lama bermain, kami semua duduk kembali di depan rumah temanku, menghirup udara segar sambil menikmati indahnya langit di siang hari. Siang itu, tepatnya pukul 13:00, matahari sangat terik, hingga membuat mata kami sipit-sipit tidak jelas:). Tapi aku tidak peduli, seterik apapun aku harus tetap bermain, inilah yang membuat kulitku kurang cerah sampai sekarang, karena terlalu bersemangat untuk bermain.

          Siang itu kami merasa bosan, ingin melanjutkan bermain, tapi kami sangat lelah. Tiba-tiba perutku lapar dan ingin makan yang segar segar.
     Aku: "Minta belimbing yuk ke Pak Hasan"
     Sekar: "Boleh"
     Aku: "Nanti kamu yang izin ya" pintaku kepada Sekar
     Sekar: "Desi aja"
     Wati: "Izin bareng-bareng"
     Aku: "Yaudah iya"
          Sesampainya di rumah Pak Hasan, kami semua meminta izin, dan alhamdulillah kita boleh mengambil belimbing miliknya. Aku dan teman-temanku sangat semangat menaiki pohon tersebut. Aku melihat ada belimbing yang sangat segar, yang memaksaku untuk mengambilnya. Tapi untuk mengambil belimbing tersebut, butuh konsentrasi dan tenaga yang kuat. Aku meminta bantuan kepada temanku "Wati, tolong ambilin belimbing itu dong" pintaku. "itu jauh, aku gabisa ngambilnya, takut jatuh" "Yahhhhh payah" kataku mengejek. "Kamu jangan coba-coba ngambil, masih banyak belimbing yang lain, lagian rantingnya juga udah hampir patah". Baru ranting yang hampir patah, bukan hati:v
     Desi: "Daks, menta palastik atulah"
     Aku: "Pulung tuh pulung di bawah" Desipun turun mengambil plastik untuk menaruh belimbing yang diambilnya tadi. Aku masih menatapi belimbing tersebut, bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengambilnya. Ternyata kali ini belimbing lebih menarik daripada si dia:). Dengan nekadnya kakiku melangkah maju mendekati belimbing itu, dan alhasil belimbingku dapat, akupuh dibawah tergeletak. Teman-temanku panik, tapi aku biasa saja, aku hanya meneteskan air mata sambil memanggil mamahku. Teman-temanku langsung membawaku pulang, aku bersikap so kuat di depan mamahku, padahal sebenarnya aku rapuh. Aku masuk ke dalam meninggalkan teman-temanku, dan Wati menceritakan kejadian itu kepada temanku.
          Keesokannya, aku sudah sehat dan bermain seperti biasanya bersama teman-temanku. Belajarlah dari kejadian ini, tetaplah berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, jatuh bangun lagi, gagal coba lagi, karena hidup tidak selalu di bawah.